Beralih ke menu navigasi utama Beralih ke bagian utama Beralih ke bagian footer website

Articles

Vol 10 No 2 (2026): Halu Oleo Law Review

Batas Penafsiran Penghasutan dan Kualitas Alasan Hukum dalam Perkara Ekspresi Politik

DOI
https://doi.org/10.33561/holrev.v10i2.209
Telah diserahkan
Oktober 15, 2026
Diterbitkan
2026-10-20

Abstrak

Divergent outcomes in political expression cases require scrutiny of how judges connect criminal provisions, communicative content, culpability, and evidence. This article evaluates alleged errors in convictions and the strengths and limitations of the reasons determining acquittals. It adopts doctrinal legal research, combining statutory, case, and conceptual approaches with a structured comparison of eight documents: six district court judgments and two appellate procedural determinations, involving twelve defendants in four analytical groups. The Magelang judgment inadequately distinguishes foreseeable consequences from conscious acceptance and insufficiently individualizes responsibility for violence. The Wawan judgment raises issues concerning temporal applicability and proof of knowledge of falsity. The Laras judgment has a stronger textual basis, yet its assessment of danger and the necessity of restrictions remains incomplete. The Surakarta and Delpedro acquittals provide stronger scrutiny of communicative content and individualized evidentiary links, although parts of their reasoning require correction. The Surakarta appellate determinations address only the admissibility of appeals. The article contributes an evaluative framework separating statutory interpretation, application to established facts, and evidentiary reasoning, thereby reconciling protection of political expression with accountability for proven incitement to violence.

Referensi

  1. Akbar, Muhammad Fatahillah, dan Beniharmoni Harefa. “Rekonstruksi Putusan dan Upaya Hukum dalam Hukum Acara Pidana Baru di Indonesia.” Jurnal Hukum Pidana Indonesia 3, no. 2 (2026): 133–152. https://journal.asperhupiki.id/index.php/jhpi/article/download/54/28.
  2. Haidi, Toufan Hazmi. “Tindak Penghasutan Dalam Pasal 160 KUHP Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 7/PUU-VII/2009.” Jurist-Diction 5, no. 4 (2022): 1581–1602. https://doi.org/10.20473/jd.v5i4.37359.
  3. Khumaerah, Rini Indhyra, dan Fadhli Muhaimin Ishaq. “Rekonstruksi Norma Upaya Hukum terhadap Putusan Bebas dalam Sistem Peradilan Pidana Indonesia.” Jurnal Hukum Mimbar Justitia 12, no. 1 (2026): 80–95. https://doi.org/10.35194/jhmj.v12i1.6207.
  4. Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia. Putusan Nomor 7/PUU-VII/2009. 22 Juli 2009. https://www.mkri.id/public/content/persidangan/putusan/putusan_sidang_PUTUSAN%207-KUHP-2009.pdf.
  5. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Putusan Nomor 690/Pid.Sus/2025/PN Jkt.Pst. 7 April 2026. Salinan yang disediakan untuk penelitian, 69 halaman.
  6. Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Putusan Nomor 742/Pid.Sus/2025/PN Jkt.Pst. 6 Maret 2026. Salinan yang disediakan untuk penelitian, 317 halaman.
  7. Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. Putusan Nomor 675/Pid.Sus/2025/PN Jkt.Sel. 15 Januari 2026. Salinan yang disediakan untuk penelitian, 120 halaman.
  8. Pengadilan Negeri Magelang. Putusan Nomor 14/Pid.Sus/2026/PN Mgg. 4 Mei 2026. Salinan yang disediakan untuk penelitian, 259 halaman.
  9. Pengadilan Negeri Surakarta. Putusan Nomor 1/Pid.B/2026/PN Skt. 30 Maret 2026. Salinan yang disediakan untuk penelitian, 104 halaman.
  10. Pengadilan Negeri Surakarta. Putusan Nomor 2/Pid.B/2026/PN Skt. 30 Maret 2026. Salinan yang disediakan untuk penelitian, 84 halaman.
  11. Pengadilan Tinggi Semarang. Penetapan Nomor 564/PID/2026/PT SMG. 12 Mei 2026. Salinan yang disediakan untuk penelitian, 27 halaman.
  12. Pengadilan Tinggi Semarang. Penetapan Nomor 565/PID/2026/PT SMG. 12 Mei 2026. Salinan yang disediakan untuk penelitian, 12 halaman.
  13. Rachman, M. Taufik, Bahri Yamin, dan Imawanto. “Ruang Gelap Pasal 160 KUHP Perspektif Hak Asasi Manusia.” Ganec Swara 19, no. 2 (2025): 588–593. https://doi.org/10.59896/gara.v19i2.251.
  14. Republik Indonesia. Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945. Naskah kompilasi JDIH DPR RI. https://jdih.dpr.go.id/index/uu1945.
  15. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2023 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Pidana. https://peraturan.go.id/files/uu1-2023.pdf.
  16. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2024 tentang Perubahan Kedua atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. https://peraturan.go.id/files/uu-no-1-tahun-2024.pdf.
  17. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2026 tentang Penyesuaian Pidana. https://jdih.kemenkoinfra.go.id/cfind/source/files/uu/2026/uu-nomor-1-tahun-2026.pdf.
  18. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2005 tentang Pengesahan International Covenant on Civil and Political Rights (Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik). https://peraturan.go.id/files/uu12-2005.pdf.
  19. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2025 tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana. https://jdih.kemenkoinfra.go.id/cfind/source/files/uu/2025/uu-nomor-20-tahun-2025.pdf.
  20. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. https://peraturan.go.id/files/uu35-2014bt.pdf.
  21. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman. https://peraturan.go.id/files/uu48-2009.pdf.
  22. Republik Indonesia. Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1981 tentang Hukum Acara Pidana. https://peraturan.go.id/files/uu8-1981.pdf.
  23. United Nations. International Covenant on Civil and Political Rights. 16 Desember 1966. https://www.ohchr.org/sites/default/files/ccpr.pdf.
  24. United Nations High Commissioner for Human Rights. Report on the Expert Workshops on the Prohibition of Incitement to National, Racial or Religious Hatred. A/HRC/22/17/Add.4. 11 Januari 2013. Lampiran Rencana Aksi Rabat. https://www.ohchr.org/Documents/Issues/Opinion/SeminarRabat/Rabat_draft_outcome.pdf.
  25. United Nations Human Rights Committee. General Comment No. 34: Article 19, Freedoms of Opinion and Expression. CCPR/C/GC/34. 12 September 2011. https://www.ohchr.org/sites/default/files/english/bodies/hrc/docs/GC34.pdf.
  26. United Nations Human Rights Committee. General Comment No. 37 (2020) on the Right of Peaceful Assembly (Article 21). CCPR/C/GC/37. 17 September 2020. https://www.refworld.org/sites/default/files/2025-03/ccpr_c_gc_37-en.pdf.
  27. Van Dijk, Alwin. “A Cognitivist and Volitionist Analysis of Conditional Intent and Conscious Negligence in Traffic Cases on the Basis of Desirability Maximization Theory.” Dalam Criminal Liability for Serious Traffic Offences: Essays on Causing Death, Injury and Danger in Traffic, diedit oleh Alwin van Dijk dan Hein Wolswijk, 173–225. The Hague: Eleven International Publishing, 2015. https://pure.rug.nl/ws/files/28372569/Criminal_Liability_for_Serious_Traffic_Offences_final.pdf.
  28. Wróblewski, Jerzy. “Legal Decision and Its Justification.” Logique et Analyse 14, no. 53–54 (1971): 409–419. https://www.logiqueetanalyse.be/archive/issues1-86/LA053-054_B/LA053-054_50wroblewski.pdf.
  29. Zahara, Usi, Ismansyah, dan Yoserwan Hamzah. “Penyidikan Tindak Pidana Penghasutan Dalam Unjuk Rasa Anarkis Oleh Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Kota Padang.” UNES Journal of Swara Justisia 8, no. 1 (2024): 166–186. https://doi.org/10.31933/ujsj.v8i1.494.